Sehelai Harapan Yang Hilang (1) - PERANTAU

Breaking

 


Friday, April 3, 2015

Sehelai Harapan Yang Hilang (1)

Treeeth….tiba-tiba terdengar bunyi daun pintu berwarna kuning yang sedikit kotor karena minta di reparasi terbuka, dan itu menandakan ada orang yang membukanya, karena pintu tua  tersebut tidak mungkin terbuka sendiri oleh desiran angin. “Assalamu’laikum”…. terdengar suara lembut seorang  perempuan mengucapkan salam sembari menarik daun pintu yang agak susah dibuka. 

“Wa’alaikum salam”, jawab Ali tanpa  menghiraukan siapa yang masuk ke dalam ruang kerja temannya, Ali lebih asyik menatap monitor laptop yang senantiasa menemani dalam menambah pengetahuan.
 “Misi mas, mau tanya, mau minta kode administrasi kampus, di sini kah tempatnya?”, tanya salah  seorang dari tiga perempuan yang kebetulan bersamaan masuk ke ruangan. “O iy Mba, di sini, jawab Ali sambil menunggu loading laptop yang sangat lamban.  “bentar ya Mba saya panggilkan orang nya, silahkan duduk Mba”, lanjut Ali.
Sambil menunggu dapat kode, ketiga perempuan tersebut duduk persis di hadapan tempat Ali duduk. Dalam setengah malu, Ali memperhatikan dan mengajak ketiga perempuan tersebut ngobrol, dan ternyata, “Subhanallah cantiknya perempuan ini, alim lagi kalau dilihat dari cara berpakaiannya”, batin Ali.
“Mbanya semester berapa”, cletuk Ali mencoba untuk mengajak bicara. “Semester satu mas..”jawabnya cukup singkat. “Oya Mba nanti kalau sudah dapat kode, data-datanya diisi di sini ya!!!”, pinta Ali sembari menunjukkan contoh di laptop kesayangannya. “Ngomong-ngomong Mba bertiga ambil jurusan apa?”, tambah Ali dengan basa-basi. “Ekonomi Syariah Mas”, jawab seorang perempuan yang dari tadi membuat batin Ali menghayal bak Ramayana dan Dewi Sinta dalam film Mahabarata.
Tanpa disadari, sekitar setengah jam ngobrol terpaku dalam kecanggungan, lama-kelamaan suasana obrolan menjadi cair sembari membicarakan pengalaman hidup. “Denger-dengar Mas ni orangnya cerdas dan aktif ya?”, tanya seorang perempuan, namanya Zahra, salah seorang yang kebetulan menjadi magnet hati Ali untuk tidak henti-hentinya membatin dan menghayal tentang dia. “Ah kata siapa?”, tanya Ali balik untuk memperjelas. “Kata orang-orang ko, Kakak tu prestasi akademiknya masuk kategori lulusan terbaik dan sukses memimpin organisasi juga”, sahut dia lagi. “Bohong aja tu orang-orang!!!”, jawab Ali untuk meyakinkan dia. “Ah Mas ini, ga boleh terlalu merendah gitu, daripada dibilangin bodoh, mending dikatain pinter kan he..he..”..sangkal dia seolah-olah omongan orang benar sambil menggendong tas menandakan dia akan bergegas keluar. “Ya udah mas kami pulang dulu, lain kali bisa dilanjutkan kembali ngobrolnya”, lanjut Zahra sambil bergegas dari tempat duduknya. “Kenapa cepet pulang, baru jam segini”, sahut Ali yang sebenarnya masih menginginkan dia untuk tetap tinggal dan melanjutkan obrolannya. “Ada kerjaan Mas, bantu orang rumah”, cletuk teman Zahra menimpali. “Oke Mba makasih ya atas semuanya, hati-hati di jalan”, lanjut Ali.

Selepas kepergian ketiga perempuan, yang salah satunya membuat hati Ali gundah gulana, tiba-tiba dalam sesaat…..bersambung

1 comment:

  1. Terkadang apa yang kita harapkan itu bukanlah hilang, tetapi kita tak pandai melihat tanda-tanda keberadaanya. Maka jelas bahwa telah di terangkan pada kita, jika ingin mendapatkan dunia harus dengan ilmu, jika ingin mendapatkan akhirat dengan ilmu, jika ingin mendapatkan keduanya juga dengan ilmu.

    Janganlah berputus asa, galilah terus ilmunya untuk melihat tanda-tanda harapan itu. Salam Sukses Selalu.

    ReplyDelete

Nama:
Eamil: